TIME TABLE vs TIME LINE

Pribadi vs Sosial

Berhubungan Intim Saat Pacaran “Ustadz Dr. H. Rusli Hasbi, MA”

Tanya:taarufvspacaran

Ustadz…mohon nasihatnya untuk meredakan gelisah di hati saya. Saya pernah berhubungan intim saat pacaran dengan pacar saya yang kuliah dan kerja di luar negeri. Kemudian kami putus karena dia mengatakan belum siap secara ekonomi untuk menikah (saya berusaha mempertahankan hubungan kami tapi tidak berhasil). Beberapa bulan kemudian akhirnya dia menikah dengan wanita non-muslim/Kristen (mereka menikah di luar negeri).

Bulan Januari lalu, dia minta maaf kepada saya dan mengatakan masih sangat mencintai saya. Dan dia berharap kelak di akhirat bisa dikumpulkan dengan saya orang yang dia cintai. Sampai sekarang, saya tidak bisa melupakan semua peristiwa itu (dia pacar pertama saya). Saya sangat menyesal dan merasa malu dengan semua perbuatan saya. Saya sangat terluka secara emosional. Saya berjuang keras untuk mempertahankan semangat hidup dan berusaha bertobat nasuha.

  • Apakah saya berdosa karena tidak menerima maafnya?
  • Saya merasa minder untuk mulai berhubungan dengan laki2 (untuk mencari calon suami)?
  • Apakan saya harus mengatakan bahwa saya sudah tidak perawan bila ada laki-laki yang ingin meminang saya?
  • Saya selalu merasa bahwa dosa-dosa saya terlalu besar hingga sulit dimaafkan. Itu membuat saya merasa down.

Mohon petunjuknya….

Jawab:

Dari pengalaman adik penanya kita mendapat pelajaran yang sangat berharga tentang betapa indahnya Islam yang melarang keras pacaran di luar nikah. Maha suci Allah yang menjadikan Islam rahmat bagi makhluk-Nya, yang sangat peduli dengan kesucian wanita dan kebahagiaan suami-istri dalam rumah tangga. Lihatlah betapa hubungan di luar nikah akhirnya mengantarkan pelakunya ke jurang penderitaan, antara lain terjerumusnya mereka ke dalam zina, kekecewaan dan rasa sakit hati apabila tidak jadi menikah. Walaupun mereka berhasil menikah, pacaran sangat dekat dengan zina yang merupakan dosa besar. Di samping itu, zina menimbulkan bahaya lahirnya anak-anak yang tidak berayah (ayah biologis di luar nikah tidak diakui oleh Islam) atau pembunuhan janin yang tidak berdosa.

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (QS Al-Isra’: 32)

Rasulullah juga mengutuk keras pacaran dalam sabdanya:

(لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ (سنن الترمذي

s19333141Artinya: Tidak ada seorang laki-laki dan perempuan yang berkumpul di tempat sepi (berkhalwat) kecuali syetan adalah teman mereka. (HR. Tirmizi)

Selanjutnya, harus dipahami bahwa pertemuan di akhirat yang dimaksud “teman” penanya tidak dalam konteks hubungan cinta atas dasar nafsu. Ada ayat dan hadits yang menjelaskan bahwa seseorang akan dikumpulkan bersama orang-orang yang dicintainya di hari akhirat. Orang-orang yang mencintai Rasulullah SAW, misalnya, yang selalu berselawat kepadanya, setia mengikuti sunnahnya, dan mengikuti jejaknya dalam mendakwahkan Islam kepada masyarakat, pantas berharap akan bertemu dengan Rasulullah di hari kemudian. Begitu juga suami istri yang shalih dan shalihah yang saling mencintai dalam menjalankan syariat Allah, dalam beribadah kepada-Nya, saling bertemu dan berpisah karena Allah. Insya Allah mereka juga akan saling didekatkan di hari akhirat. “Mereka dan istri-istri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan” (QS Yasin: 56). Hubungan cinta di luar nikah yang diwarnai maksiat kepada Allah tidak termasuk dalam janji Allah tersebut.

Merasakan malu dan menyesal adalah jalan menuju tobat. Saya menyarankan Anda terus menyesali perbuatan itu dan terus bertobat nasuha serta melupakan orang yang telah membuat masa depan Anda “tercoreng”. Tobat harus segera diikuti dengan perbaikan. Bergaullah dengan orang-orang yang berwawasan Islami dan jauhi pergaulan dengan orang-orang yang tidak takut kepada Allah. Jaga diri, berbuat baik kepada kedua orangtua, dan isilah waktu dengan membaca buku-buku agama atau mendengarkan ceramah-ceramah pembangunan jiwa.

Saya yakin bila Anda bisa menjaga diri sesuai tuntunan agama dan memiliki akhlak yang mulia (baik dengan Allah maupun dengan manusia), Allah akan memberikan Anda jalan menuju masa depan yang lebih cerah insya Allah. Untuk itu, jauhilah hal-hal yang dapat membuat terulangnya kembali sejarah lama. Jangan lupa mohon kepada Allah agar selalu dituntun-Nya ke arah yang lebih baik. Doa seorang hamba yang bertobat nasuha insya Allah tidak pernah tertolak.

Rusli Hasbi

Filed under: Cinta Remaja, Soal Cinta, Time Table, ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

TIME TABLE vs TIME LINE

Pribadi vs Sosial

%d bloggers like this: